Saturday, December 7, 2019

INI DIA ILMU SEJATI UNGKU SALIAH YANG BISA DIPELAJARI SEMUA ORANG

Nama Ungku saliah bagi kalangan masyarakat Minang sama sekali tidak asing. Ya, apabila anda berkunjung ke rumah makan Minang yang dimiliki orang Piaman, anda akan mudah menemukan foto seorang kakek yang memakai kopiah dengan pandangan yang teduh bersahaja. Kakek itu adalah Ungku Saliah, ulama kenamaan Piaman dari Sungai Saghiak.

Ada banyak cerita tentang ulama satu ini. Sebagian besar yang beredar di tengah masyarakat adalah tentang karomah beliau yang konon mampu berjalan diatas air, sampai tak basah kena hujan. Beliau juga disebut-sebut memiliki ilmu mampu membagi diri sehingga dapat hadir dan berceramah di dua atau tiga surau secara sekaligus. Banyaknya saksi hidup yang mengaku pernah melihat langsung kejadian-kejadian di luar nalar tersebut, membuat keyakinan akan karomah Ungku Saliah menjadi kental di tengah masyarakat Piaman hingga kini.

Namun, suatu ketika penulis pernah mendapat cerita lain tentang Ungku Saliah. Adalah Buya Hamidi, seorang ulama senior Padang Panjang yang bercerita kepada penulis tentang "karomah" Ungku Saliah yang mudah diterima nalar awam. Ungku Saliah, kata sang ulama adalah sosok sangat sederhana yang piawai dalam berdagang. Beliau sama sekali tidak pandai memainkan timbangan, menipu pelanggan dengan menipu tentang kualitas dagangan atau praktek-praktek curang lainnya.

Nah, itulah dia ilmu sejati sang Ungku. Jujur! Kejujuran adalah hal mendasar yang menurut Ungku Saliah harus dijunjung setiap pedagang apabila ingin sukses. "Misalnya kalau lagi musim semangka, maka Ungku Saliah pun akan berjualan semangka. Dia berdakwah dengan cara mempraktekkan langsung bagaimana itu berdagang dengan jujur," sebut Buya Hamidi.

Tapi praktek perdagangan Ungku Saliah sama sekali berbeda dengan apa yang dilakukan sebagian pedagang ketika itu. Ia punya modal kecil. Akibatnya semangka yang ia jualpun bukan semangka kelas 1. Tapi pembeli suka berbelanja dengan Ungku Saliah. Kenapa? karena Ungku Saliah berani buka-bukaan soal dagangannya. Ia bahkan memperbolehkan pembeli mencicip sendiri, atau mencongkel buah yang ia jual untuk tau bagaimana kualitas isinya. Konon, inilah awal mula sejarah "bataweh" sebuah tradisi berjual buah ala Piaman, dimana pedagang boleh mencicipi buah dengan mencongkel kulitnya.

Sementara pedagang lain justru ada yang menipu. Buah yang dipamerkan kualitasnya tampak bagus. Namun ketika ada yang membeli, ia pilihkan yang tidak bagus. Akibatnya orang membeli buah murahan dengan harga mahal.

Kenapa Ungku Saliah bisa dapat untung dengan berjualan secara "lurus tabung" ini? Bila dihitung penjualan per buah, memang keuntungan ungku Saliah sangat sedikit, bahkan kerap beliau rugi atau hanya "pulang pokok" saja. Tapi, inilah cara berpromosi yang paling mangkus sepanjang masa. Orang jadi percaya pada Ungku Saliah. Jadi, sebelum jatuh cinta pada barang jualan, pembeli telah dibuat jatuh cinta terlebih dahulu pada penjualnya. Pembeli yang sudah kecewa dengan pedagang curang, berbondong-bondong membeli dagangan Ungku Saliah. Ketika Ungku Saliah beralih jualan ke buah-buah atau benda-benda lain, orang tetap mencari dagangang yang dijual Ungku Saliah itu. Akumulasi untung dalam jangka mingguan atau bulanan akhirnya membengkak. Disitulah kesuksesan finansial bisa diraup.

Jujur adalah ilmu sejati Ungku Saliah yang dapat dipelajari semua orang. Tapi apakah ilmu ini dapat dipraktekkan dengan mudah? Zaman sekarang kita harus berupaya keras agar dapat menerapkan kejujuran secara istiqomah.

Masih banyak ajaran Ungku Saliah yang terselip pada praktek sehari-hari yang beliau terapkan. Penulis akan mengulas pada tulisan lain setelah ini. Selamat berdagang. Semoga dapat menerapkan ilmu sejati Ungku Saliah ini. (Ajo Wayoik)

Pakai Cara Ini, Posting Hal Tak Pentingpun Bakal Viral!

Nah, begitu caranya. Bikin saja judulnya yang sensasional seperti judul diatas, biasanya langsung viral. Cebab sekarang orang nggak bakal baca isi, langsung share. Yang penting sensasional ajah. Udah ya...saya mau bikin tulisan viral
lagi nih. 

"Hutang" Mahasiswa di Balik Beasiswa

"Hutang" Mahasiswa Dibalik Beasiswa

Oleh : Ajo Wayoik

Mahasiswa sering disebut sebagai agen of change. Benar adanya, berbagai bentuk perubahan pada masyarakat hingga ke pemerintahan di seluruh penjuru dunia jamak terjadi berkat sentuhan pemikiran hingga pergerakan mahasiswa. Di balik itu, dari segi profesi pada bidang study masing-masing, mahasiswa juga dipercaya sebagai insan-insan cendikia yang punya kompetensi mumpuni. Karena itu mencapai level sebagai mahasiswa menjadi tidak mudah. Ada proses panjang yang tidak hanya terkait dengan kemampuan otak, tetapi juga ekonomi.

Sebagian pemuda yang memiliki cita-cita tinggi, namun berasal dari keluarga yang terkategori kurang mampu, mengambil kesempatan untuk mendapatkan beasiswa baik dari pemerintah maupun swasta. Selain untuk mengatasi kendala ekonomi, sebagian beasiswa juga diberikan sebagai hadiah atas prestasi yang pernah diraih.

Namun, sadarkah para mahasiswa yang menerima beasiswa bahwa fasilitas pembiayaan kuliah sebenarnya mengandung beban tersendiri? Terutama yang mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Hal ini terkait dengan kesadaran tentang darimana dana pemerintah untuk beasiswa itu didapatkan?

Dalam skema anggaran negara, berbagai pengeluaran termasuk beasiswa berasal dari pendapatan negara baik berupa pajak maupun non pajak. Di Indonesia, Pajak masih menjadi sumber pendapatan terbesar. Terkini, menurut catatan Indonesia menggantungkan anggaran negara sebesar 70 persen dari Pajak.

Apa itu pajak? pajak adalah pemasukan negara yang berasal dari rakyat dengan sifat yang memaksa. Artinya, pajak adalah kontribusi  pribadi maupun badan yang terkategori sebagai wajib pajak dengan konsekewensi hukum yang tegas bila tidak mematuhinya.

Setiap hari, kita melihat kendaraan berseliweran. Kendaraan itu juga termasuk yang dikendarai oleh petani, nelayan, tukang ojek serta kelas menengah ke bawah lainnya. Pajak kendaraan termasuk pada pajak daerah. Pemerintah daerah akan menggunakan pajak itu untuk pembangunan dan pembiayaan lain dalam menunjang kelancaran pemerintahan. Dalam hal pembangunan Sumber Daya Manusia, salah satu penggunaan anggaran yang berasal dari pajak kendaraan tadi adalah untuk beasiswa. Tentu saja, mahasiswa yang berasal dari daerah bersangkutan mendapat prioritas utama agar dapat mencicipinya. Ini adalah hutang!

Di berbagai tempat kita melihat perkembangan dunia usaha. Bagi dunia usaha diterapkan pajak dengan banyak jenis, baik bagi badan usaha, produk usaha, pengusaha sampai para pekerja yang mencari nafkah di sebuah perusahaan. Pajak-pajak itu seperti Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan nilai dan lain sebagainya. Ini terkategori sebagai pajak pusat. Seperti juga pemerintah daerah, alokasi bagi beasiswa juga ada dalam skema pembiayaan yang menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) bersumber pajak. Sekali lagi berarti beasiswa dari pemerintah adalah hutang!

Hutang? ya, hutang penerima beasiswa pada rakyat yang membayar pajak. Memang, tak satupun produk hukum yang menerakan dengan tegas bahwa beasiswa dari pemerintah adalah hutang. Tapi ini soal kesadaran si mahasiswa sendiri. Bahwa dibalik fasilitas pembiayaan kuliahnya ada tanggung jawab yang harus dilunasi pada rakyat yang membayar pajak. Mahasiswa penerima beasiswa pemerintah harus  benar-benar sadar bahwa keberhasilannya menapaki pendidikan kelas tinggi adalah sumbangsih rakyat banyak. Sekiranya kesadaran ini ada, maka tidak mungkin mahasiswa bersangkutan akan menyia-nyiakan masa kuliahnya untuk menjalani hal-hal yang mengganggu pendidikannya. Uang beasiswa juga tak patutnya dipakai untuk pacaran, sekedar bermain-main atau hal-hal diluar study lainnya.

Selain itu, seorang mahasiswa penerima beasiswa dari pemerintah juga perlu menanamkan kesadaran bahwa di masa depan, apapun yang berhasil ia raih dari derajat pendidikannya yang baik, harusnya berdampak bagi bangsa dan negara. Tapi ini bukan berarti bahwa "menyicil hutang" pada rakyat ini hanya perlu dimulai ketika sudah tamat kuliah saja.

Menurut hemat penulis, semasa kuliahpun mahasiswa harus punya motivasi untuk mulai membayar kewajibannya pada rakyat. Misalnya dengan terlibat pada organisasi-organiasi luar maupun dalam kampus. tentu saja organisasi-organiasi yang program dan kegiatannya berdampak positif dan luas bagi masyarakat. Disamping mengasah kepiawaian dalam mengelola teamwork, terlibat dalam organisasi seperti ini akan membuat mahasiswa senantiasa ingat bahwa rakyat adalah pihak paling berperan (selain orangtua dan institusi tempat kuliah)  dalam keberlangsungan pendididikannya.  

Di dunia militer di Indonesia, pesan Jenderal Besar Panglima Sudirman yang paling legendaris itu berbunyi; Rakyat adalah ibu kandung TNI. Hendaknya kesadaran para tentara republik ini berkat pesan tadi juga menjadi kesadaran para mahasiswa penerima beasiswa. Prajurit TNI ditanami kesadaran bahwa mereka lahir  dari rahim rakyat. Demikian juga harusnya yang tertanam di sanubari mahasiswa, terutama mereka yang menerima beasiswa pemerintah.

Jayalah mahasiswa Indonesia. Jadilah generasi yang membawa perubahan sepanjang masa!